Menengok Inovasi Baru Mahasiswa Polije Bikin Aplikasi Buku Sukses

Menengok Inovasi Baru Mahasiswa Polije Bikin Aplikasi Buku Sukses

novasi teknologi sudah menjadi kewajiban untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat. Sayangnya, tak semua inovasi yang dibuat mahasiswa bisa diterapkan. Hanya sebagian saja, seperti aplikasi Buku Sukses ini.

 

Awalnya hanya buku biasa yang berisi cara menilai karakter anak. Mulai dari karakter keagamaan, kecerdasan, sosial, dan lainnya. Namanya Buku Sukses, buku yang dipegang siswa untuk menilai sendiri kesehariannya. 

 

Misal, jam berapa salat subuh? bagaimana perasaan hari ini? Apakah sudah hormat kepada orang tua? Dan lainnya. Ada lima jawaban untuk pertanyaan tersebut, yakni A hingga D. Setiap hari, orang tua mendampingi anaknya menjawab pertanyaan tersebut. 

 

Jawaban itu menjadi penilaian kepribadian seorang anak melalui ilmu psikologi. Penerapan Buku Sukses itu dilakukan di SDN Dabasah 1 Bondowoso. “Awalnya hanya manual, menuliskannya pada kertas,” kata Misbahul Hasan, mahasiswa Teknik Informatika Politeknik Negeri Jember.

 

Penilaian yang konvensional itu menggerakkan Misbah dan beberapa temannya untuk mempermudah. Yakni membuat aplikasi penilaian kepribadian anak, sehingga tak perlu lagi menuliskannya di atas kertas, namun bisa menjawab melalui komputer atau gawai. 

 

Selain Misbah, ada juga Enggal Deny, Fikri Robiyaturrohman, A Syamsul Arifin, dan M Hilmy. Lima mahasiswa itu mencoba membuat inovasi yang langsung bisa diterapkan. Selama dua tahun, mereka berusaha agar bisa membuat aplikasi Buku Sukses untuk menilai kepribadian pelajar. 

 

Misbah berupaya mengembangkan Buku Sukses yang digagas oleh Teddy Hamzah melalui super student di Bondowoso. “Saya pernah menjadi super student, ada tumpukan kertas penilaian,” akunya. 

 

Tentu saja, kertas yang digunakan itu kurang efisien dan boros. Tak heran, Misbah terus berupaya mengembangkan aplikasi itu untuk mempermudah proses manajamen program Buku Sukses dalam menentukan kepribadian siswa. Diterapkan di SDN Dabasah 1 Bondowoso karena pemahaman pihak sekolah dan orang tua siswa juga sejalan dengan program Buku Sukses. 

 

Inovasi program Buku Sukses itu memberikan  form yang harus diisi secara digital setiap hari tentang aktivitas siswa. Baik di sekolah maupun di rumah.  Form pertanyaan yang harus diisi terdiri atas empat kategori, yakni kegiatan religi, kegiatan di rumah, kegiatan di sekolah, dan cerita tentang perasaan hari ini 

 

Setelah form diisi, akan dikumpulkan pada  Teddy Hamzah, psikolog yang menjadi penanggung jawab utama program Buku Sukses sekaligus mentor. Dari jawaban itulah, Teddy bisa menilai kepribadian anak. “Aplikasi yang kami buat awalnya tugas mata kuliah Sistem Informasi,” ujarnya. 

 

Misbah bersama Dyah Ayu Dwijayanti dan Ully Nuhanatika, kemudian terus dikembangkan menjadi program yang bisa dimanfaatkan. Bahkan, sekarang terus dikembangkan agar bisa diterapkan di semua sekolah dasar. 

 

Misbah bersama empat temannya sedang mengembangkan sistem pakar agar aplikasi tersebut bisa langsung menilai kepribadian siswa. Tanpa harus dilakukan secara manual dengan melihat nilai jawaban. “Secara otomatis ketika mengisi nilai, kepribadian anak bisa dijawab komputer,” ungkapnya. 

 

Inovasi teknologi itu hanya salah satu hasil yang dilakukan oleh mahasiswa Politeknik Negeri Jember. Sebab, setiap mahasiswa harus membuat tugas inovasi setiap semester. “Sebelumnya, saya juga membuat aplikasi Grow Up,” ucapnya. 

 

Yakni aplikasi konsultasi para petani pada pakar melalui sistem daring (online).  Petani bisa bertanya tentang masalah yang dialami dengan cara menghubungkan petani agar bisa sharing dengan ahli pertanian. Bahkan, aplikasi yang dibuatnya mewakili Indonesia untuk dipresentasikan di Singapura dan sempat membuat investor asing tertarik. 

 

Misbah pun mendapat kesempatan bertukar pendapat tentang pengembangan inovasi teknologi di Singapura. Selain itu, dia juga mengikuti pertukaran belajar ke Korea Selatan, negara terbaik di bidang inovasi teknologi. 

 

Diakuinya, Indonesia kalah dari sisi penerapan inovasi yang sudah dilakukan. Mereka hanya melakukan inovasi, namun tidak langsung diterapkan. Berbeda dengan Korsel, aplikasi yang dibuat langsung diterapkan di masyarakat. “Kita kalahnya dari sisi penerapan, kalau SDM dan inovasinya tidak kalah,” jelas mahasiswa asal Bondowoso tersebut. 

 

Ketua Jurusan Teknik Informatika Polije Wahyu Kurnia Dewanto mengarahkan para mahasiswanya agar membuat produk aplikasi yang bisa diterapkan langsung di masyarakat. Meskipun tugas kampus, namun bisa digunakan. “Itu kami terapkan pada mahasiswa semester IV,” ucapnya. 

 

Setiap prodi di jurusan tersebut, mulai dari Manajemen Informatika, Teknik Komputer, dan Teknologi Informatika, mampu membuat 40 inovasi setiap semester. Semua itu ada yang bisa dikembangkan menjadi program yang aplikatif. “Namun, sebagian juga ada yang belum bisa digunakan,” tambahnya. 

 

Caranya, lanjut dia, mahasiswa yang hendak membuat inovasi teknologi harus melakukan survei dahulu, sesuai dengan kebutuhan pengguna. Misal, membuat aplikasi untuk usaha jasa boga (catering) atau jasa penatu (laundry), mahasiswa harus melihat kebutuhan pelaku usaha. “Justru ide untuk berinovasi itu bisa datang dari warga yang membutuhkan,” ucapnya. 

 

Bagi pria yang akrab disapa Wahyu tersebut, inovasi teknologi sudah menjadi kewajiban. Apalagi, sudah memasuki era industri 4.0. “Tantangan sekarang harus inovatif agar tidak tertinggal,” ujarnya. 

 

Polije, lanjut dia, sudah memiliki berbagai inovasi teknologi yang dikembangkan. Seperti tongkat orang buta yang dibuat dengan teknologi mampu melihat lubang atau barang di depannya. Ketika ada lubang, maka akan berbunyi. Kemudian, teknologi untuk mendeteksi telur busuk dan lainnya. “Hanya saja, masih belum layak jual, belum dikemas dengan baik,” papar Wahyu.

 

Inovasi tersebut perlu didukung dengan kemasan yang menarik agar bisa dimanfaatkan masyarakat. Untuk itu, perlu peningkatan proses, tidak hanya membuat, tetapi juga produksi. “Dari hulu ke hilir bisa dilakukan, namun butuh proses pengembangan ke sana,” imbuhnya.

 

Selain itu, untuk mengejar ketertinggalan di bidang inovasi teknologi. Para pelajar tingkat SD hingga SMA harus dikenalkan tentang teknologi. Siswa perlu mendapat informasi tentang perkembangan teknologi, lalu diajari untuk berinovasi. 

 

Artikel di Kutip dari Jawa Pos Kamis, 05 Jul 2018 editor : Dzikri Abdi Setia

Artikel Asli


Bagikan Artikel :