Klasifikasi Metekognisi Menggunakan Angket Metacognitive Awareness Inventory (MAI) Terhadap Gaya Belajar Mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Studi Algoritma: Fuzzy), Dwi Nafis Mahardika, NIM E41212382, Tahun 2026, hlm, Teknologi Informasi, Politeknik Negeri Jember, Lukie Perdanasari, S.Kom, M.T. Pembimbing).
Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat metakognisi mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Politeknik Negeri Jember Angkatan 2024 serta menganalisis perbedaan kecenderungannya antar kelompok kelas (golongan), menggunakan angket Metacognitive Awareness Inventory (MAI) yang diproses dengan algoritma Fuzzy Mamdani. Sebelum diterapkan pada data sesungguhnya, model fuzzy dibangun dan diuji terlebih dahulu menggunakan data uji coba dari 10 mahasiswa Angkatan 2021, dengan hasil klasifikasi sistem dibandingkan terhadap penilaian dua ahli psikologi pendidikan melalui metode ground-check. Setelah model dinyatakan valid, data riil dikumpulkan dari 81 mahasiswa Angkatan 2024 yang dipilih melalui stratified random sampling proporsional dari populasi 141 mahasiswa dalam enam golongan (A-F), melalui website survei CogniFy yang telah lulus pengujian blackbox dan User Acceptance Testing. Dua dimensi MAI, yaitu Knowledge of Metacognition (KM, 17 butir) dan Regulation of Metacognition (RM, 35 butir), dipetakan ke dalam tiga himpunan fuzzy Rendah, Sedang, dan Tinggi menggunakan fungsi keanggotaan trapesium dan segitiga, kemudian diproses melalui inferensi IF-THEN beroperator AND (minimum) dan defuzzifikasi metode Maximum.
Hasil klasifikasi menunjukkan bahwa Golongan A menjadi satu-satunya kelompok dengan dominasi kategori tinggi (9 dari 14 mahasiswa, sisanya 5 mahasiswa berkategori sedang). Golongan B dan F menunjukkan komposisi yang lebih bervariasi, masing-masing dengan campuran kategori rendah, sedang, dan tinggi, sedangkan Golongan C, D, dan E seluruh mahasiswanya (masing-masing 14 orang) berkategori sedang tanpa satu pun berkategori rendah atau tinggi. Hasil ini membuktikan bahwa algoritma Fuzzy Mamdani mampu memetakan skor KM dan RM ke dalam kategori metakognisi secara lebih fleksibel dibanding metode klasifikasi cut-off konvensional, karena mempertimbangkan derajat keanggotaan pada dua kategori sekaligus untuk mahasiswa yang skornya berada di rentang beririsan.
Secara keseluruhan, dominasi kategori sedang pada sebagian besar golongan mengindikasikan bahwa mayoritas mahasiswa Angkatan 2024 masih berada pada fase transisi pengembangan metakognitif, sudah memiliki kesadaran terhadap proses berpikirnya namun belum sepenuhnya konsisten dalam regulasi belajar secara optimal. Nilai RM yang secara umum lebih tinggi dibanding KM turut menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung sudah menjalankan pengaturan cara belajar, tetapi belum sepenuhnya menyadari secara konseptual strategi kognitif yang digunakan. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi dosen dan pengelola Program Studi Teknik Informatika untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih adaptif, seperti penguatan pembelajaran berbasis refleksi dan integrasi latihan metakognitif pada mata kuliah dasar.