Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Jember. Tingginya jumlah kasus TBC, keterbatasan pelaksanaan skrining yang masih dilakukan secara langsung pada kelompok tertentu, serta rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menjadi tantangan dalam upaya pengendalian penyakit. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan keterlambatan deteksi dini dan risiko terjadinya Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO). Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan sistem skrining dan monitoring pengobatan Tuberkulosis berbasis web dan mobile yang dapat membantu masyarakat melakukan skrining secara mandiri, membantu pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, serta memudahkan petugas kesehatan dalam mengelola dan memantau data pasien.
Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah Waterfall yang terdiri atas tahapan requirement, design, coding, testing, dan maintenance. Aplikasi website dikembangkan menggunakan framework Laravel, sedangkan aplikasi mobile dikembangkan menggunakan Flutter. Proses skrining menerapkan pendekatan Rule-Based yang mengacu pada pedoman skrining Tuberkulosis Kementerian Kesehatan. Sementara itu, fitur monitoring pengobatan didukung oleh layanan Firebase Cloud Messaging (FCM) untuk mengirimkan notifikasi pengingat minum obat sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem berhasil dikembangkan dalam bentuk aplikasi web dan mobile yang saling terintegrasi. Aplikasi mobile menyediakan fitur registrasi, login, skrining TBC, riwayat skrining, monitoring pengobatan, notifikasi pengingat minum obat, dan pengelolaan akun, sedangkan aplikasi website menyediakan dashboard, pengelolaan data pasien, data skrining, monitoring pengobatan, laporan, pengelolaan admin, dan riwayat aktivitas. Berdasarkan hasil pengujian menggunakan metode Black Box Testing dan User Acceptance Testing (UAT), seluruh fungsi sistem berjalan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat meningkatkan jangkauan deteksi dini kasus TBC, mendukung kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas, serta membantu petugas kesehatan dalam melakukan monitoring pengobatan secara lebih efektif dan terstruktur.