Implementasi Monitoring Suhu Dan Kelembapan Budidaya Jamur Tiram
Antirogo Menggunakan Sensor SHT31 Berbasis Internet of Things, Mohammad
Hakiki Riza, NIM E32230313, Tahun 2026, Teknologi Informasi, Politeknik Negeri
Jember, Ir. Surateno, S.Kom., M.Kom (Dosen Pembimbing).
Jamur tiram merupakan salah satu jamur konsumsi yang populer di kalangan masyarakat
karena cita rasanya yang enak, teksturnya yang kenyal, serta nilai gizinya yang tinggi.
Jamur tiram juga dikenal memiliki berbagai khasiat kesehatan, seperti membantu
menurunkan kadar kolesterol, bersifat antibakteri, antiinflamasi, dan antivirus,
menurunkan tekanan darah, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki jamur tiram, banyak petani tertarik untuk
membudidayakannya. Untuk memperoleh hasil panen dengan kualitas dan jumlah yang
maksimal, diperlukan teknik budi daya jamur tiram yang benar. Jamur tiram tumbuh
dengan memanfaatkan unsur hara yang terdapat pada kayu yang diperkaya dengan
bahan nutrisi tambahan. Pertumbuhannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti
suhu, kelembapan, intensitas cahaya, pH, media tanam, serta sirkulasi udara. Jamur
tiram dapat membentuk tubuh buah secara optimal pada suhu antara 26–28 derajat
Celsius, sedangkan kebutuhan cahaya matahari untuk pertumbuhannya relatif rendah.
Sejalan dengan pentingnya pengendalian faktor lingkungan dalam budidaya jamur
tiram, tugas akhir ini berfokus pada perancangan dan penerapan sistem monitoring suhu
dan kelembapan sebagai parameter utama pertumbuhan jamur. Sistem yang
dikembangkan memanfaatkan sensor SHT31 yang diintegrasikan dengan
mikrokontroler ESP32 untuk mengukur kondisi lingkungan secara real-time. Data hasil
pengukuran selanjutnya dikirim melalui jaringan internet sehingga dapat dipantau dari
jarak jauh. Dengan adanya sistem ini, diharapkan kondisi lingkungan budidaya jamur
tiram dapat terjaga secara optimal dan stabil, sehingga mendukung peningkatan kualitas
dan hasil panen.